Kamis, 04 Oktober 2012

arti senyummu dalam hidupku

Langkahku terhenti di depan sebuah toko buku. Teringat buku yang harus aku beli, akupun memasukki toko buku itu.

“Ini dia…” katakku sambil mengambil sebuah buku yang bersampul biru, kemudian membaca isinya sebentar.

“Maaf ya… maaf…” seorang pria tiba-tiba tidak di kenal datang dan langsung memelukku tanpa alasa yang jelas.

Beberapa detik berlalu. Aku sempat bingung. Karena tidak segera melepaskan pelukannya akupun mendorongnya dengan kasar. “Apa-apaan sih lo?” katakku kasar

“Aduh… maaf banget ya… tadi aku lagi di kejar-kejar orang. Makasih ya mau bantuin aku.” Katanya kemudian tersenyum kepadakku.

“Orang stress.” Katakku kemudian meninggalkannya kemudian membawa bukuku ke kasir.

“Eh La… lo dari mana aja?” Tanya Dina menghampiriku.

“Ada orang stress, tiba-tiba meluk gue nggak jelas gitu. Katanya lagi di kejar-kejar sama orang.” Katakku kemudian menunjuk orang yang tadi memelukku.

“Demi apa? Lo di peluk sama dia? OMG… beruntung banget sih lo La, bisa di peluk sama dia.”

“Beruntung? Yang ada gue mandi kembang tujuh rupa abis ini.” Katakku ketus.

“Lo tau nggak dia siapa?” tanyanya. Aku menggeleng tanpa dosa. “Dia itu Landry. RAFAEL LANDRY TANUBRATA. Mantan vokalis band Cola float, sumpah ternyata dia keren banget.” Katanya kemudian histeris

“Cola float? Apaan tuh? Kayak nama minuman?” katakku polos.

“Cola float? Masa lo nggak tau? Itu loh, band yang judul lagunya Aku Sayang Kamu. Yang sering gue nyanyiin. Sumpah lagunya enak banget.”

“Terserah lo deh. Mau cola float kek. Mau coca cola kek. Gue nggak perduli. Balik yuk!!!” ajakku kepada sahabatku itu.

“Ah nggak seru lo… yaudah ayo balik.” Dina kemudian menggandeng tanganku dan kamipun keluar dari mall itu.


***
Hari berganti. Sekarang aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok abu-abu selututku. Akupun bersiap untuk segera berangkat ke sekolah.

“Kamu udah bangun La?” seorang wanita yang tak lain mamaku menyapku dengan ramah. “Tadi ada orang yang nganterin bunga. Katanya buat kamu.”

“Dari siapa ma?”

“Nggak tau. Itu bunganya ada di ruang tamu.” Akupun segera mengambil kiriman bunga itu. kemudian memperhatikannya, sebuah mawar merah dan sekotak cokelat kesukaanku. Dan ada sebuah amplop berwarna biru yang berisi sebuah note. Kata-katanya sederhana, tapi menurutku itu cukup berkesan.

Cinta yang tumbuh dari sebuah perasaan yang sederhana.

***
Aku sampai di sekolah. “Pagi Lala. Sendiri aja?” seseorang mengagetkanku dari belakang.

“Eh, Ilham? Keliatannya?” katakku kepada seorang pria yang berada di belakangku yang ternyata Ilham, sahabatku.

“Sendiran. Biasanya sama Pramudina? Sohib lo?”

“Apasih? Gajelo ham. Emang lo bukan sohib gue?”

“Sejak kapan kita sohiban?” tanyanya menggoda. “Becanda-becanda. Eh ngomong-ngomong, gimana peluncuran buku kedua lo kemarin?”

“Baik. Lo kok nggak dateng sih? Jadikan gue Cuma berdua sama Dina.” Katakku sedih.

“Sorry deh. Gue ada acara, jadi nggak bisa dateng…”

“Oh yaudah. Eh ngomong-ngomong kemarin lo rekaman buat band lo ya? Apa kabarnya tuh band?”

 “Boy Band.”

“Ia deh apakatalo.”

“Baik lah. Emang kenapa?”

“Nggak. Soalnya masa ada band yang mau nerima orang kayak lo?” candakku. “Maksud gue emang nggak ada orang lain yang lebih waras untuk jadi personil band, selain lo?”

“Buktinya? Gue waras. Kalau nggak waras mana bisa gue break dance sambil nyanyi.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. “Udahlah ayo kita masuk kelas! Nanti telat, diomelin Pak Effendi loh…” Ilham kemudian menarik tanganku menuju kelas.

Tiba-tiba jantungku berdegup kencang ketika Ilham menarik tanganku. Oh tuhan… apa yang terjadi padakku? Kenapa rasanya jantung ini tidak bisa berhenti berdegup kencang. Apakah aku suka sama Ilham? Nggak mungkin. Aku, dia, dan Pramudina sudah bersahabat sejak kecil. Masa aku mengingkari persahabatan demi cinta sesaat?

***
“Bisa gila gue lama-lama….” Jeritku ketika aku melihat sebuah karangan bunga lagi di meja belajarku.

“Kenapa lo La?” Tanya Dina yang sedang bermain di rumahku. Tepatnya sekarang dia berada di kamarku.

“Itu!” katakku menunjuk sebuah karangan bunga yang di letakkan di meja belajarku.

“So? Apa yang salah? Bunganya bagus.” Kata Dina enteng, sambil mengambil mawar merah dan sekotak cokelat yang ada di meja belajarku.

“Bagus sih bagus. Tapi ini terror namanya. Udah hampir satu bulan tiap hari gue bisa dapet 3 kiriman bunga sama cokelat kayak gitu. Emangnya rumah gue taman bunga apa? Sehari di kirimin 3 karangan bunga, udah kayak minum obat aja.” Katakku emosi

“Terus?”

“Nggak ada nama pengirimnya pula. Ditambah note-note itu!!!” katakku sambil menunjuk beberapa buah amplop yang berada di samping kotak cokelat. “Bisa gila gue lama-lama!!” jeritku lagi.

“Melihat dirimu tersenyum kepadakku, bagaikan melihat seluruh dunia tersenyum kepadakku. Wah… wah… kata-katannya bagus. Dapet darimana lo, La?”

“Dapet dari mana? Ya dari semua kiriman nggak jelas itu lah….”

“Itu berarti lo punya pengagum rahasia.”

“Apa? Pengagum rahasia gue? Darimana?”

“Ya wajar lah lo dapet karangan bunga sama note kayak gitu kayak gitu tiap hari. Lo kan novelis? Dan buku lo juga cukup terkenal. Jadi wajar lah kalau ada yang ngefans sama lo samapai kayak gitu. Kalau gue tuh baru nggak wajar. Gue siapa? Nggak ada yang kenal. Paling satpam depan sekolah yang kenal sama gue.”

“Huh…” akupun hanya bisa menghela nafas. Sesaat ku menatap mata sahabat baikku itu. Mungkin Dina benar. Tapi kenapa dia melakukan hal itu kepadaku? Kenapa dia tidak mencantumkan namanya di setiap kirimannya? Apakah dia benar-benar pengagum rahasiaku? Atau dia orang yang senang meneror kehidupan orang lain.

***
“Hai La… Din.” Seseorang menepuk pundakku.

“Eh lo Ham….” Sapaku kepada Ilham.

“Gue cariin lo berdua di kelas nggak ada, taunya ada di kantin.”

“Tumben lo nyariin kita? Kenapa nih… pasti ada udang di balik batu?” Tanya Dina. Memang benar jika Ilham mencari aku dan Dina pasti ada sesuatu yang dia inginkan.

“Tau aja…” kata Ilham sambil menunjukkan senyum beribu arti.

“Oke. To the point aja. Lo maunya apa? Kalo duit gue nggak punya, tanggung bulan nih…” kata Dina.

“Nggak kok. Gue Cuma mau ngajak lo ke peluncuran Single boy band gue. Mau ya….” Ilham memohon.

“Kapan?” Tanyaku.

“Hari minggu. Please dateng ya….” Katanya memohon.

“Oke deh Ham. Gue usahain.” katakku.

“Kok usahaiin sih… lo berdua harus dateng, nggak mau tau.”

“Ia deh… gue sama Lala dateng. Kita balik ke kelas dulu ya. Udah bel tuh.” Kata Dina. Kemudian bel sekolah berdering dua kali, itu tandanya jam istirahat sudah habis. Dan aku sudah harus kembali ke kelas.

***
Sesuai janjiku yang kemarin, aku dan Pramudina datang ke acara peluncuran single terbarunya Ilham. Di sana rencananya Ilham akan mengenalkanku pada personel Boy bandnya.

“Hei!!!” seseorang memanggil kami dari kejauhan. Dan aku tahu dia pasti Ilham. Kemudian dia menghampiri kami. “Gue kira kalian nggak datang.”

“Eh Ham… Gue kan udah janji kemarin. Janji kan harus di tepati.” Katakku.

“Yaudah ayo masuk. Nanti gue kenalin sama teman-teman gue.” Katanya mengajakku masuk ke dalam.

Di dalam aku melihat enam orang lainnya. “Guys, ini teman-teman gue.” Kata Ilham kepada teman-temannya. “Ini namanya Morgan, Kakak gue Reza, Dicky, Bisma, Rangga, dan yang di tuakan Rafael.” Katanya menjelaskan satu per satu.

“Elo…” katakku begitu melihat seorang yang seakan tidak asing.

Dia kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Seakan tidak mengenaliku. Detik kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah. “Kamu Lala , novelis terkenal itu kan?” tanyanya.

“Elo bukannya yang waktu itu meluk gue di mall kan?” katakku.

“Kaaakkk Landry…..” Tiba-tiba Dina langsung memeluk orang itu.

“Lo udah kenal dia?” Tanya Ilham kepadakku begitu melihat ekspressi wajahku melihat orang itu.

“Belum. Tapi gue pernah ketemu dia di toko buku. dan nggak tau kenapa, tau-tau dia meluk gue. Katanya lagi dikejar-kejar orang.”

“Haha… ada-ada aja. Tapi lo tau nggak, sebenarnya Rafael itu ngefans banget sama lo?”

“Gue? Kok bisa?”

“Dia itu hobi banget baca buku. Apalagi kayak novel yang lo buat.” Kata Ilham menjelaskan semuanya.

“Masa sih, novel gue bisa sesukses itu?” kataku tak percaya.

“Kelihatnnya?” Ilham menatap matakku, benar-benar lekat. Tidak seperti tatapannya yang biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Rasannya ada perasaan lain yang menyelimuti hatiku. Apakah aku jatuh cinta kepadanya?

Bangun Lala , Ilham itu sahabat lo. Nggak mungkinkan lo suka sama dia. Mau lo apain persahabatan lo, kalau lo suka sama dia. Inget dong, Dina juga suka sama Ilham. Jangan nyoba-nyoba ngancurin persahabatan yang udah ada selama bertahun-tahun ini demi cinta sesaat.

***
Tok… tok
Terdengar pintu rumahku di ketuk. Hari ini mamaku pergi, jadi aku hanya sendirian di rumah. “Sebentar…” teriakku dari dalam.
 
“Elo?” katakku terkejut dengan mulut yang mengangga membentuk huruf O, ketika melihat siapa yang berada di balik pintu depan rumahku.

“Boleh masuk?” katannya, iapun tersenyum manis kepadakku.

“Silahkan.” Katakku ragu-ragu, kemudian membukakan pintu untuknya. Aku memersilahkannya duduk di ruang tamu rumahku. “Lo Rafael kan? Temennya Ilham? Dan yang waktu itu ada di toko buku?”

“Ia. Sorry ganggu. Dan gue juga mau minta maaf soal yang di toko buku.” katannya menjawab satu per satu pertanyaan yang aku lontarkan secara beruntun. “Oh iya, gue juga mau minta maaf. Gara-gara gue lo ngerasa di terror selama satu bulan ini. Sorry ya?” katannya lagi

“Maksud lo?”

“Jadi gini…” katanya kemudian mengeluarkan sebuah mawar merah dari balik punggungnya. “Gue yang ngirim ini kerumah lo selama sebulan ini. Sorry kalau lo ngerasa ke terror.”

Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti. “Jadi maksud lo? Lo yang udah ngirim semua bunga itu ke gue?”
 
“Yup… bisa dibilang begitu.”

“Sama cokelat dan note itu?” katakku lagi.

“Cokelat? Gue nggak nggak pernah ngirim cokelat, apalagi note.”

“Jadi yang ngirim cokelat sama note itu bukan lo?”

Rafael menampilkan tatapan bingungnya ke arahku. Tiba-tiba hand phone ku berbunyi. Sebuah pesan singkat, dari Ilham.

LA, LO DIMANA? CEPET KERUMAH SAKIT, PENYAKITNYA DINA KAMBUH LAGI.
Pikiranku langsung melayang begitu membaca SMS dari Ilham. Penyakitnya Dina kambuh lagi? Kok bisa? Pasti ada sesuatu yang bikin dia kaget, jadinya penyakitnya kambuh lagi.
 
“Kamu mau kemana?” tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku baru ingat kalau sedang ada tamu di rumahku.

“Dina, sahabat gue. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sekarang dia ada di rumah sakit. Lo mau ikut?” Rafael menganggukkan kepalanya, dan saat itu juga aku dan dia menuju rumah sakit.

***
“Kok bisa penyakit jantungnya Dina kambuh? Emangnya kenapa?” tanyaku kepada Ilham yang sedang berada di ruang tunggu.

“Jadi begini….”

“Ham, akhir-akhir ini kok sekarang lo jadi sering banget beli cokelat sih? Setahu gue lo nggak suka cokelat.” Tanya Reza kakanya Ilham

“Emang kenapa? Mau tau aja. Suka-suka gue dong….”

“Lo kan adek gue. Jadi, apapun yang lo lakukan gue harus tau. Termasuk sifat lo yang tiba-tiba berubah gini.”

“Jadi sebenarnya…” Ilham diam sejenak. “Gue ngirim ini semua buat Lala. Sebenarnya gue udah suka sama dia dari dulu. Tapi, nggak pernah gue ungkapin. Gue takut di tolak sama dia kak.”

Tanpa di sengaja, Dina mendengar percakapan Ilham dengan Kakaknya. Tiba-tiba, nafasnya langsung tidak teratur, dan seketika itu juga dia pingsan.

“Jadi… lo suka sama gue?” Ilham mengangguk. “Lo juga yang ngirimin cokelat ke rumah gue?” Ia kembali mengangguk. “Dan Dina tau.” Ilham kembali mengangguk. “Ya ampun, Ham… lo tau nggak? Dina itu suka sama lo dari dulu. Dari pertama kali kita sahabatan. Dia bilang dia naksir berat sama lo. Tapi lo nya malah kayak gitu. Gimana nggak penyakit jantungnya kumat lagi?”

“Sorry, La… gue nggak tau.” Ilham terlihat menyesal.

“Udahlah, lo nggak usah minta maaf kayak gitu. Tapi, thanks yang buat semua cokelatnya.” Aku tersenyum kepadanya Ilham pun tersenyum kepadakku. Senyumnya itu benar-benar membuat hatiku cenat-cenut. Jadi inget lirik lagunya SM*SH, kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu. Ahahah…
Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam kamarnya Dina. “Siapa yang di sini namanya Ilham sama Lala?”

“Kami pak…” aku dan Ilham berdiri secara bersamaan. “Saudari Dina ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kalian.”

“Maksud dokter?” tanyaku.

“Kondisi saudari Dina sudah tidak dapat di tolong lagi. Penyakit jantungnya sudah tidak bisa di tolong. Mungkin hidupnya hanya tinggal sebentar lagi. Dan tadi dia bilang ingin bertemu dengan kalian. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kalian dengannya.” Kata dokter itu.
Tubuhku lemas mendengarnya. Rasanya kaki ini membeku, tidak dapat bergerak. Tapi Ilham menggenggam tanganku, kemudian menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Bagaikan api yang benyambar sebongkahan es batu kakiku yang tadi membaku bagaikan es batu yang baru saja mencair.

“Ayo kita selesaikan ini semua.” Katanya, kami berdua pun masuk ke dalam ruangan UGD tempat Dina di rawat.

“Dina…” kata kami bersamaan, begitu melihat kondisi Dina yang terbaring sangat lemas dengan berbagai alat rumah sakit menempel di badannya.

“Lala, Ilham.” Katanya lemas, sambil mencoba tersenyum kepada kami.

“Din, sorry ya… gara-gara gue, lo jadi… jadi… ya… jadi begini.” Kata Ilham, memang kata-katanya terkadang suka nggak jelas apa maksudnya.

“Gue juga minta maaf ya...” katakku kepada Dina

“Gue yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya gue jadi jarak diantara kalian berdua. Gue bagaikan kutu yang ada di rambut tau.”
 
“Maksud lo apa din? Ada juga gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama kita.”

“Gue tau…” katanya samba tersenyum kemudian menggenggam tanganku, dan menyatukannya dengan tangannya Ilham. “Gue tau, lo suka sama Ilham kan, La? Dan Ham, lo suka sama Lala kan? Jadi kenapa kalian nggak jadian aja.”

“Tapi kan…” aku melepaskan genggaman tanganku dengan Ilham.

“Anggep aja gue nggak ada. Sebentar lagi gue juga mati kok. Jadi kalian bisa pacaran dengan tenang. Tanpa ada lagi kutu di rambut kalian. Hehe…” katanya sambil sedikit bergurau, kemdian kembali menyatukan tanganku dengan tangannya Ilham.

Sesaat aku menggengam tangannya Ilham. Benar-benar hangat, rasanya nyaman dan tentaram di hati. Tapi kenapa tiba-tiba tangannya berubah menjadi dingin, dan beku. Bagaikan tidak ada setetespun darah yang mengalir di tubuhnya. Apa jangan-jangan…

Brak….
Nitt…..
Aku terkejut. Ketika melihat Ilham sudah terkapar di lantai, dengan wajah yang pucat dau sudah tidak bernafas lagi. Ditambah lagi alat pendetkesi detak jantung yang terpasang di tubuh Dina juga membentuk sebuah garis lurus.

Aku tertunduk menyesal. Aku benar-benar telah mengorbankan persahabatan kami demi cinta sesaat. Kini, aku benar-benar kehilangan sahabat-sahabat terbaikku. Dan juga semua persahabatan yang telah kami jalin yang benar-benar indah.
Tamat

belajar bersama: Aulia

RINDUKU KENANGANKU

RINDUKU KENANGANKU
oleh: Laeli Sidik Febrianto

               Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti.
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

* * *
Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas.
* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.
* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"
* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
               “Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana
* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
               “Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berubah menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……
* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.
Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. 
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.
* * *
               Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya.
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.
* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.
* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.
Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.
SELESAI
belajar bersama:Rica O.Y.

contoh usulan co card september mipa


silahkan komentar kalian

Senin, 01 Oktober 2012

KESEJAJARAN objek geometri


KESEJAJARAN

BAB 5
KESEJAJARAN

A.        Kompetensi dan Indikator
            A.1 Kompetensi
1. Memahami definisi dasar dan teorema tentang kesejajaran garis
2. Memahami penyelesaian masalah kesejajarn garis
            A.2 Indikator Pencapaian Kompetensi
                        1. Menjelaskan Definisi Dasar Kesejajaran Garis
                        2. Menjelaskan Teorema Kesejajaran Garis
                        3. Menjelaskan penyelesaian masalah kesejajaran
B.        Materi Pokok dan Uraian Materi
            Materi Pokok
                        Kesejajaran Garis
            Sub Materi Pokok
1.    Definisi Dasar Kesejajaran Garis
2.    Teorema Kesejajaran Garis
3.    Masalah Kesejajarn Garis       
Uraian Materi
5.1 Definisi Dasar
Definisi 5.1
Garis yang bersilangan adalah dua garis yang tidak berpotongan dan tidak terletak pada bidang yang sama.
Definisi 5.2
Sebuah garis dan bidang adalah sejajar, jika tidak mempunyai titikpersekutuan.
Definisi 5.3
Bidang yang sejajar adalah bidang yang tidak mempunyai titik persekutuan.
Definisi 5.4
Sebuah garis melintang adalah garis yang memotong dua  garis yang sebidang di dua titik yang berbeda..
Sudut dalam bersebrangan adalah dua sudut dalam dengan puncak yang yang berbeda di sisi yang berlawanan pada garis melintang.
Sudut luar bersebrangan adalah dua sudut luar dengan puncak yang yang berbeda di sisi yang berlawanan pada garis melintang.
Sudut yang sehadap adalah sudut yang terletak pada sisi yang sama pada garis melintang. Salah satu sudutnya adalah sudut luar, dan sudut yang lain adalah sudut dalam.


5.2 Teorema tentang Garis Sejajar
Sepasang sudut terbentuk dari sepasang garis dan sebuah garis melintang penting dalam membentuk garis sejajar.
Teorema
Jika dua garis dipotong oleh garis melintang dan sepasang sudut sehadap yang kongruen, maka garis itu sejajar.


 
                                                                         p          q
                                                                                                     q
                           2                 q                                                                                                                                                                                    p               2            1      Diketahui Ð1  Ð2                     Diketahui Ð1  Ð2             Diketahui Ð1  Ð2
Perhatikan bahwa  p  q       Perhatikan bahwa p  q                    Perhatikan bahwa p  q

Diketahui : Garis p, q, dan r dengan Ð1  Ð2.
Buktikan p  q
Anggap p    q. (catatan :      artinya tidak sejajar). Kemudian anggap segitiga akan terbentuk dan menemukan sebuah kontradiksi.


 
          p                A   2

     q             B   1
                       
                                   A
Pernyataan
Alasan
  1. Jika p    q.
  2. Maka p dan q berpotongan pada satu titik, sebut saja C dan DABC terbentuk.
  3. Ð2 adalah sudut luar dari DABC.
  4. Ð1 adalah sudut dalam  yang jauh dari Ð2.
  5. mÐ2 > mÐ1.
  6. mÐ1 = mÐ2 (kontradiksi dari mÐ2 > mÐ1).
  7. Oleh karena itu, p  q.
  1. Asumsi bukti tak langsung.
  2. Uraian dengan cara I.


  1. Definisi sudut luar.
  2. Definisi sudut dalam yang jauh.
  3. Teori sudut luar.
  4. Diketahui.
  5. Bukti tak langsung logika.


Teorema 5.2
Jika dua garis yang dipotong oleh sebuah garis melintang dan sudut dalam bersebrangannya sama besar (kongruen), maka garis itu sejajar.
Teorema 5.3
Jika dua garis yang dipotong oleh sebuah garis melintang dan sudut luar bersebrangannya sama besar (kongruen), maka garis itu sejajar.
Teorema 5.4
Jika dua garis yang dipotong oleh sebuah garis melintang dan sudut dalam sepihaknya saling bersuplemen (jumlah besar sudutnya 180­­­), maka garis itu sejajar